Pada Hari Sabtu ada hari Kartinian saya memperingati hari Kartinian saya sangat salut kepada pada Raden Ajeng kartini saya pingin hari Kartinian banyak bermanfaatkan bagi kaum wanita saya sangat salut karna dia
sudah memperluas wawasan nya sebagai pahlawan perempuan sangat berjasah sekali saya mau menjadi pilot prefosional karna saya ingin menjadi pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini saya turut mendukung berjasah nya ibu kartini
Kamis, 26 April 2012
Kamis, 15 Maret 2012
Fastest In The Metro Highway
Saya Menjadi King di semua tempat ( Fastest In the Metro Highway ) dengan 70,023 Coins... Silakan di lihat video-nya...
Rabu, 15 Februari 2012
Sejarah Valentine
Sejarah Valentine Day atau yang dikenal sebagai hari kasih sayang bagi mereka yang meyakini. Sejarah hari Valentine memang acap kali menjadi kontroversi dari berbagai kalangan. Sebagian pro dan sebagian kontra, bagaimakah pendapat sobat? (itu sih terserah sobat aje). Diluar dari pada pro dan kontra mari kita amati dan cermati bagaimasih awalnya kok bisa ada yang namanya Hari Valentine?.
Sejarah awal adanya hari Valentine dimulai pada awal abad keempat sebelum masehi, kebiasaan dari pada bangsa Romawi biasa mengadakan pesta bagi salah satu dewa/dewi mereka yaitu Lupercalia Lupercus (yaitu dewi kesuburan). Perayaan ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari, bersamaan dengan musim kawin burung.
Ternyata pesta Lupercalia ini bukan hanya pesta biasa namun acar tersebut juga merupakan ajang mencari jodoh dan bersenang-senang yang cukup unik. Perayaan tersebut dimulai oleh para gadis yang menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Selanjutnya para pemuda yang hadir akan mengambil kertas didalam kotak tersebut secara acak. Nama gadis yang terpilih akan menjadi pasangan pemuda tersebut sampai pesta Lupercalia yang berikutnya (saling bertukar pasangan tanpa ikatan). Akhirnya acara jodoh-jodohan dalam pesta Lupercalia yang telah berlangsung selama 800 tahun ini pun kemudian ditentang oleh fihak gereja yang ada di Roma. Alasannya, hal ini merupakan perayaan kafir yang bertentangan dengan ajaran Kristen.
Romawi pada abad ke-3 diperintah oleh Kaisar Claudius yang kejam. Ia berambisi memiliki pasukan militer yang besar untuk berperang. Ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalam ketentaraan. Claudius berpikir bahwa banyak pria Romawi enggan menjadi tentara karena takut meninggalkan keluarga dan kekasih mereka. Lalu Claudius memerintahkan untuk melarang semua pertunangan dan pernikahan di Romawi.
Valentine yang saat itu merupakan pendeta terkenal di Roma bersama-sama dengan seorang pendeta lain bernama Marius, secara sembunyi-sembunyi tetap menikahkan para pasangan.Namun perbuatan mereka akhirnya diketahui oleh Claudius, yang langsung memerintahkan untuk menangkap dan memenggal leher Valentine.
Ia dihukum pancung pada tanggal 14 Februari 270 M. Sebelum dipenggal, ia menulis surat buat putri penjaga penjara yang senantiasa menemaninya selama di penjara. Di akhir surat ia menulis, “Dengan Cinta, Dari Valentine mu”. Semenjak saat itu ucapan Valentine pun menjadi kata yang tersohor dan melegenda.
Karena itu ada yang percaya bahwa orang-orang merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari Valentine... untuk mengingat Valentine sebagai pejuang cinta. Apapun latar belakang hari Valentine, perlakukanlah tanggal 14 Februari secara proporsional dan tidak berlebihan.
Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine yang sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan.
Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari.
Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang di penjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang dan perkembanganya pun tidak hanya kartu ucapan saja namun pemberian kado berupa coklat dan benda-benda yang dianggap romantis.
Demikianlah sejarah Valentine Day atau hari valentine dan kebiasaan memberikan kartu ucapan dan kado sebagai bentuk kasih sayang pada orang yang dikasihi tiap tanggal 14 Februari.
. bagi yang merayakan valentine dan mencari ide ucapan disini sms valentine.
Sejarah awal adanya hari Valentine dimulai pada awal abad keempat sebelum masehi, kebiasaan dari pada bangsa Romawi biasa mengadakan pesta bagi salah satu dewa/dewi mereka yaitu Lupercalia Lupercus (yaitu dewi kesuburan). Perayaan ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari, bersamaan dengan musim kawin burung.

Romawi pada abad ke-3 diperintah oleh Kaisar Claudius yang kejam. Ia berambisi memiliki pasukan militer yang besar untuk berperang. Ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalam ketentaraan. Claudius berpikir bahwa banyak pria Romawi enggan menjadi tentara karena takut meninggalkan keluarga dan kekasih mereka. Lalu Claudius memerintahkan untuk melarang semua pertunangan dan pernikahan di Romawi.
Valentine yang saat itu merupakan pendeta terkenal di Roma bersama-sama dengan seorang pendeta lain bernama Marius, secara sembunyi-sembunyi tetap menikahkan para pasangan.Namun perbuatan mereka akhirnya diketahui oleh Claudius, yang langsung memerintahkan untuk menangkap dan memenggal leher Valentine.
Ia dihukum pancung pada tanggal 14 Februari 270 M. Sebelum dipenggal, ia menulis surat buat putri penjaga penjara yang senantiasa menemaninya selama di penjara. Di akhir surat ia menulis, “Dengan Cinta, Dari Valentine mu”. Semenjak saat itu ucapan Valentine pun menjadi kata yang tersohor dan melegenda.
Karena itu ada yang percaya bahwa orang-orang merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari Valentine... untuk mengingat Valentine sebagai pejuang cinta. Apapun latar belakang hari Valentine, perlakukanlah tanggal 14 Februari secara proporsional dan tidak berlebihan.
Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine yang sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan.
Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari.
Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang di penjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang dan perkembanganya pun tidak hanya kartu ucapan saja namun pemberian kado berupa coklat dan benda-benda yang dianggap romantis.
Demikianlah sejarah Valentine Day atau hari valentine dan kebiasaan memberikan kartu ucapan dan kado sebagai bentuk kasih sayang pada orang yang dikasihi tiap tanggal 14 Februari.
Rabu, 25 Januari 2012
asal muasal perayaan imlek.
Ada sebuah legenda kuno yang mengisahkan asal usul tradisi perayaan Imlek di Tiongkok, begini ceritanya :
Dahulu kala ada seekor monster jahat yang memiliki kepala panjang dan tanduk yang tajam. Monster yang bernama nian ini sangat ganas, dia berdiam didasar lautan, namun setiap tahun baru dia muncul kedarat untuk menyerang penduduk desa dan menelan hewan ternak. Oleh karena itu setiap menjelang tahun baru, seluruh penduduk desa selalu bersembunyi dibalik pegunungan untuk menghindari serangan monster nian ini.
Pada suatu hari saat menjelang pergantian tahun, semua penduduk desa sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka untuk mengungsi ke pegunungan, datanglah seorang lelaki tua berambut abu-abu ke desa itu. Dia memohon ijin menginap semalam pada seorang wanita tua dan meyakinkannya bahwa dia dapat mengusir pergi monster nian ini. Tak ada satupun yang mempercayainya. Wanita tua ini memperingatkan dia untuk ikut bersembunyi bersama penduduk desa lainnya, tetapi lelaki tua ini bersikukuh menolaknya. Akhirnya penduduk desa meninggalkan dia sendirian di desa itu.
Ketika monster nian mendatangi desa ini untuk membuat kekacauan, tiba-tiba dia dikejutkan suara ledakan petasan. Nian menjadi sangat ketakutan melihat warna merah, kobaran api dan mendengar suara petasan itu. Pada saat bersamaan pintu rumah terbuka lebar lalu muncullah lelaki tua itu dengan mengenakan baju berwarna merah sambil tertawa keras. Nian terkejut dan menjadi pucat pasi, dan segera angkat kaki dari tempat itu.
Hari berikutnya, penduduk desa pulang dari tempat persembunyiannya, mereka terkejut melihat seluruh desa utuh dan aman. Sesaat mereka baru menyadari atas peristiwa yang terjadi. Lelaki tua itu sebenarnya adalah Dewata yang datang untuk menolong penduduk desa mengusir monster nian ini. Mereka juga menemukan 3 peralatan yang digunakan lelaki tua itu untuk mengusir nian. Mulai dari itu, setiap perayaan Tahun Baru Imlek mereka memasang kain merah, menyalakan petasan dan menyalakan lentera sepanjang malam, menunggu datangnya Tahun Baru. Adat istiadat ini akhirnya menyebar luar dan menjadi sebuah perayaan tradisional orang Tionghoa yang megah dalam menyambut “berlalunya nian” (dalam bahasa Tionghoa, nian berarti tahun)
Orang Tionghoa selalu mengkaitkan periode waktu dari hari ke 23 hingga ke 30 dalam 12 belas bulan tahun lunar tepat sebelum Hari Raya Imlek sebagai “nian kecil”.
Setiap keluarga Tionghoa diharuskan membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka untuk menyambut datangnya tahun baru. Disamping membersihkan lingkungan sekitar, setiap keluarga Tionghoa membuat berbagai hidangan menyambut Imlek yang terbuat dari daging ayam, bebek, ikan dan sapi / babi, serta manisan dan buah-buahan. Tak ketinggalan pula para orang tua membelikan baju baru untuk anak-anaknya dan mempersiapkan bingkisan angpao saat mengunjungi kerabat dan keluarga.
Ketika malam Tahun Baru tiba, seluruh keluarga berkumpul bersama. Di wilayah utara Tiongkok, setiap keluarga memiliki tradisi makan kue bola apel, yang dalam bahasa Tionghoa-nya disebut Jiao, pelafalannya sama dengan kata bersama dalam bahasa Tionghoa, sehingga kue bola apel sebagai symbol kebersamaan dan kebahagiaan keluarga. Selain itu jiao juga bermakna datangnya tahun baru. Diwilayah selatan Tiongkok, masyarakatnya suka sekali memakan kue manisan Tahun Baru (yang terbuat dari tepung beras lengket), yang melambangkan manisnya kehidupan dan membuat kemajuan dalam Tahun Baru ini (dalam bahasa Tionghoa kata “kue” dan “membuat kemajuan” memiliki pelafalan yang sama dengan kata gao) Menjelang jam 12 malam, setiap keluarga akan menyalakan petasan.
Hari pertama Tahun Baru Imlek, orang Tionghoa menggunakan baju baru dan mengucapkan selamat kepada orang yang lebih tua. Anak-anak yang mengucapkan tahun baru kepada yang lebih tua, akan mendapatkan angpao uang. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga, mereka saling mengunjungi teman dan kerabat dekatnya.
Selama masa perayaan Tahun Baru Imlek, pada umumnya jalan-jalan diarea perdagangan penuh sesak dengan keluarga Tionghoa yang berbelanja untuk keperluan Imlek. Dibeberapa tempat diluar negeri biasanya diadakan berbagai acara hiburan menyambut Imlek seperti pertunjukkan Barongsai dan Naga, pasar bunga dan pameran klenteng.
Setelah hari ke 15 bulan pertama dalam kalender Lunar, adalah waktu diadakannya Festival Lentera, yang menandakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.
Langganan:
Postingan (Atom)
